Volume Lumpur Lapindo Meningkat, Tanggul Darurat Ditinggikan
Volume Lumpur Lapindo Meningkat, Tanggul Ditinggikan

Volume air dan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, dilaporkan terus meningkat hingga melampaui bibir tanggul lama. Kondisi ini memaksa Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) untuk meninggikan tanggul penahan di titik 71 guna mencegah luapan yang dapat mengancam kawasan sekitar.

Peninggian Tanggul Darurat

Peninggian darurat ini berlokasi di titik tanggul yang berada di perbatasan Kelurahan Siring, Kecamatan Porong, dan Kelurahan Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Sebanyak tiga unit alat berat telah disiagakan, dengan satu ekskavator bekerja intensif mengeruk tanah untuk mempertebal tanggul penahan material lumpur.

Misno (60), mantan warga Kelurahan Siring RT 4 RW 1, Kecamatan Porong, mengungkapkan bahwa aktivitas alat berat ini sudah dimulai sejak akhir pekan lalu akibat elevasi lumpur yang kian meningkat. "Sudah sejak hari Jumat kemarin alat berat bekerja melakukan peninggian tanggul. Sampai hari ini masih terus dikerjakan," kata Misno kepada awak media pada Selasa (9/6).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penyebab Peningkatan Volume Lumpur

Misno menjelaskan bahwa ancaman luapan ini dipicu oleh terhentinya pembuangan material ke luar area tanggul. Akibatnya, air dan lumpur tertahan di dalam kolam penampungan hingga meluap melebihi kapasitas tanggul eksisting. "Sejak tidak ada pembuangan ke Sungai Porong, permukaan air dan lumpur terus naik. Kalau dibiarkan tentu mengkhawatirkan," ujar Misno. "Air dan lumpur terus bertambah. Sekarang permukaannya sudah lebih tinggi dari bibir tanggul lama, makanya tanggul ditinggikan," tambahnya.

Dampak Jika Tidak Segera Ditangani

Jika tidak segera ditangani, Misno mengkhawatirkan dampaknya akan melumpuhkan urat nadi transportasi di kawasan tersebut, mengingat lokasi tanggul berdekatan dengan jalur vital Jawa Timur. "Yang dikhawatirkan kalau terus naik bisa mengancam rel kereta api dan Jalan Raya Porong," ucap dia.

Senada dengan Misno, Usmin (54), warga Desa Jatirejo RT 12 RW 1, membenarkan bahwa peninggian tanggul oleh PPLS ini harus dilakukan untuk menahan laju lumpur agar tidak meluber ke permukiman warga dan jalan. "Sudah sekitar empat hari ini dilakukan peninggian tanggul. Karena memang air dan lumpur terus bertambah, bahkan sudah melewati bibir tanggul yang lama. Kalau tidak segera ditinggikan kemungkinan air dan lumpur sudah meluber keluar," kata Usmin.

Kekhawatiran Warga Terhadap Metode Peninggian

Kendati demikian, proyek darurat ini memicu kekhawatiran baru bagi warga. Usmin menyoroti metode pengambilan material tanah yang dinilai terlalu berisiko dan bisa memicu struktur tanggul lama menjadi rapuh. "Tanah untuk peninggian diambil sangat dekat dengan tanggul lama. Untuk mengantisipasi longsor dipasang penahan dari gedek dan tiang bambu," katanya.

Sejarah Bencana Lumpur Lapindo

Semburan lumpur Lapindo tercatat telah aktif selama dua dekade sejak pertama kali keluar pada 29 Mei 2006. Bencana ekologi ini menenggelamkan ribuan rumah di 16 desa, memaksa lebih dari 20 ribu kepala keluarga (KK) kehilangan tempat tinggal dan angkat kaki dari tanah kelahiran mereka. Tak hanya itu, semburan Lapindo juga memicu krisis kesehatan dan pencemaran lingkungan akibat logam berat, melumpuhkan ekonomi lokal, serta menimbulkan trauma sosial bagi ribuan warga yang mengungsi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga