Pengembangan energi terbarukan semakin menjadi fokus perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain mampu mengurangi emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan, energi bersih juga diyakini dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui sumber energi yang lebih berkelanjutan dan tidak bergantung pada gejolak pasar global.
Di tengah upaya Indonesia mengembangkan energi terbarukan, Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah M Fahmid, menilai transisi energi juga perlu dilihat dari sisi manfaat ekonominya. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam program Sekar Agni Negeri yang diinisiasi detikcom.
"Jadi green energy atau blue energy atau apapun namanya itu ya. Kalau blue energy itu kan lebih ke kelautan ya. Kalau green energy pokoknya kita berusaha mengubah yang dari fosil menjadi energi-energi terbarukan lainnya. Itu sama aja konsepnya dengan tadi Net Zero Emission (NZE)," ujar Mirah M Fahmid dikutip dari detikPagi di 20detik, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, transisi energi dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang menghasilkan emisi karbon tinggi dan berpotensi memberikan dampak buruk terhadap lingkungan. Karena itu, penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan perlu terus didorong.
Ia menilai manfaat energi terbarukan tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga berdampak pada kehidupan ekonomi masyarakat. Ketergantungan terhadap energi fosil, kata dia, membuat masyarakat rentan terhadap gangguan pasokan maupun kenaikan harga akibat faktor eksternal.
"Kalau kita masih bergantung terhadap energi fosil itu. So misalnya kayak nelayan misalnya tadi butuh diesel. Tapi kalau misalnya stok dieselnya nggak ada. Akhirnya harganya jadi tinggi karena stoknya menipis. Akhirnya nelayan jadi tidak mampu membeli. Akhirnya nanti endingnya adalah dia tidak mampu melaut. Akhirnya tidak mampu memberi makan keluarganya dan segala macam," katanya.
Mirah M Fahmid menjelaskan gejolak pasokan energi global dapat menimbulkan efek berantai hingga ke level rumah tangga. Kenaikan harga bahan bakar, misalnya, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mengurangi kemampuan masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.
"Jadi banyak hal-hal itu akhirnya dari hal besar, yang rasa-rasanya kok kayaknya ini nggak langsung nyambung ke diri kita. But anyway itu sangat berimpak bahkan di level sangat mikro seperti itu, level kepala keluarga. Apalagi kalau misalnya harga dieselnya naik, bahan bakarnya naik, yang melaut jadinya susah. Jadi banyak sekali multiplier effect yang negatif jadinya yang terjadi," ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pengembangan energi bersih yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Salah satu contohnya melalui pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Jadi energi yang bersih misalnya kita punya pembangkit listrik tenaga surya yang apung misalnya. Jadi kita bikin dia terapung kecil aja gitu ya. Tapi kalau tenaga surya itu kan harus diimbangi dengan baterai. Karena matahari hanya mampu memberikan energinya hanya sekian jam yang optimal. Berarti itu kan kita harus storage, kita harus simpan energi itu agar bisa dipakai di malam harinya," jelas Mirah M Fahmid.
Menurutnya, perkembangan teknologi penyimpanan energi membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan yang lebih luas bagi masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut bahkan berpotensi membantu kelompok masyarakat seperti nelayan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Nanti kita harus beli baterainya. Nanti baterainya kan ada yang ukurannya kecil. Mungkin nanti ada teknologi apa, akhirnya nelayan melaut pakai sumber energinya dari baterai. Jadi banyak peluang yang bisa dikembangkan dari energi bersih ini," katanya.
Selain mendorong pengembangan energi terbarukan, Mirah M Fahmid juga aktif mengawal konsep transisi energi berkeadilan yang memperhatikan dampak ekonomi daerah serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan menuju ekonomi hijau. Ia juga mendorong pemerintah daerah, khususnya di NTB, untuk menyiapkan pengembangan green jobs atau lapangan kerja hijau.
Lebih lanjut, ia mengatakan generasi muda perlu dibekali keterampilan yang relevan agar dapat mengambil peluang dalam industri energi terbarukan maupun sektor ekonomi berkelanjutan lainnya. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.
Kiprah Mirah M Fahmid menjadi salah satu potret kontribusi perempuan Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui sektor energi. Melalui Sekar Agni Negeri, detikcom mengangkat kisah perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. Program ini hadir melalui wawancara khusus di detikPagi dan detikSore yang dapat disaksikan secara live streaming maupun di platform digital detikcom.



